Dynamic VS Planar VS Electrostatic (Indonesian vers.)

Rasanya udh lama gw ga bahas mengenai driver lagi nih sejak pembahasan mengenai Dynamic VS BA driver di https://aftersoundblog.wordpress.com/2017/08/16/dynamic-vs-balanced-armature-indonesian-vers/ (yang belum baca monggo baca kalo penasaran hehehe).

 

Skrg gw bakal bahas mengenai driver pada headphone, sama seperti sebelumnya, bahwa yang gw bahas disini yang terutama bukan soal gimana driver bekerja, tapi lebih ke perbedaan, lalu point plus minus masing masing drive.

Dynamic Driver

Mulai dari yang paling konvensional, sekarang ini dynamic driver sendiri paling banyak dipakai dimana implementasi penggunaannya bisa untuk headphone harga paling murah puluhan ribu sampai yang termahal sekarang sepertinya Focal Utopia di harga 60 jutaan.

Mengenai bentuknya sendiri sama seperti speaker dimana drivernya seperti “kubah” yang bergetar melalui sinyal dari coil nya, dynamic driver ada yang kecil sampe yang gede, headphone kayaknya paling kecil diameter 30 mm sementara paling besar 70 mm, dalam hal ini semakin besar bukan pasti semakin baik, namun memang kebanyakan yang kecil lebih main di kelas bawah dan portable, sementara yang mid to high end sendiri kebanyakan 40-50 mm an

dynamic from medium com

(image from medium.com)

Kelebihan (+):
– dynamic driver biasanya paling dapat memberikan sensasi bass yang “megah” dimana ada decay yang membuat bass nya tidak terlalu cepat dan sangat cocok untuk menonton film ato mendengarkan lagu soundtrack yang megah
– dibanding yang lain teknologi ini paling konvensiaonal sehingga paling mudah didapatkan dengan harga terjangkau
– dibanding driver yang lain dynamic driver umumnya lebih gampang di drive

Kekurangan (-)
– dibanding tipe driver yang lain dynamic driver memiliki distorsi yang terburuk
– untuk low end headphones nyaris pasti memiliki freq response V-shaped dimana tidak cocok untuk pecinta vokal

Personal favorite:
<1 Juta : beyerdynamic dtx501p, sennheiser px100, koss porta pro
1-3 Juta : ath m40x, ath m50x, ath msr7, Khastaudio OS-1
3-5 juta : phonon msb-02, sony mdr 1am2, audeze sine, master & dynamic mh40, sennheiser hd6xx, akg k701, ATH R70x
5-8 juta : sennheiser HD600, sennheiser HD650, Sennheiser HD660, Tago T03, Audioquest Nighthawk
8 juta keatas : sennheiser HD800, Focal Clear, Focal Utopia, ATH ADX5000, ZMF Atticus, Fostex TH900

Personal taste in dynamic driver :
– dynamic driver bwt gw memiliki bass yang paling “natural”, kuping orang pasti beda beda soal ini, tp bwt gw bass adalah point terkuat untuk dynamic driver.

Planar Magnetic

Planar Magnetic, Isodynamic, Orthodynamic, semua sama hanya penyebutan berbeda, memiliki prinsip yang sama. Planar Magnetic Driver sesuai namanya memiliki diaphragm utama driver berbentuk bidang landai (planar) dimana dilapisi dengan konduktor yang biasanya berbentuk seperti ular, dan diapit oleh 2 magnet yang berfungsi sebagai penghantar siyal dan menggetarkan diaphragm melalui konduktornya.

planar from innerfidelity
(image from innerfidelity.com)

Driver tipe ini biasanya lebih berat, karena konstruksi drivernya sendiri yang membutuhkan lempengan magnet yang ckup besar, contohnya audeze LCD 2 dan LCD 3 sendiri beratnya 490 gram, dan ada lagi abyss ab-1266 phi yang beratnya 620 gram, sudah stengah kilo lebih. Dlu pertama kali gw make sendiri kaget sama berat dan besarnya, tapi sebanding dengan suaranya

Nah kenapa banyak yang mau berkorban walaupun Planar Magnetic ini biasanya lebih berat di kepala, lebih berat di drive, secara ukuran pun besar?, tentu semuanya karena suaranya… sensasi suara yang berbeda dibanding dengan dynamic driver, terutama pada distorsi ny yang jauh lebih kecil, bass yang lebih deep dan cepat, tekstur vokal yang lembut namun berenergil, dan separasi yang lebih rapih.
driver from indegogo
(image from indiegogo.com)

Bass planar biasanya secara measurement yang kebanyakan flat dibanding dynamic driver yang umumnya lebih menitik beratkan pada mid bass, sehingga planar lebih dapat menonjolkan sub bass

Nah pengalaman pribadi gw sama headphone planar itu… awal awal main audio bakal asing sama beberapa perusahaan headphone planar seperti audeze, hifiman, oppo (beneran headphone planar nya oppo mantep), abyss

Contoh Measurement:

Measurement Audeze LCD 2 (image from innerfidelity.com)
measurement audeze lcd 2
Measurement Oppo PM-2 (image from innerfidelity.com)
measurement oppo pm 2

Measurement Sennheiser HD650 (image from innerfidelity.com)
measurement hd 650
Pada contoh di atas terlihat jelas sennheiser HD650 memiliki rolloff bass yang lebih dulu dibanding Oppo pm2 dan audeze lcd 2 yang masih relatif flat

Kelebihan (+)
– bass yang lebih cepat, terkontrol, dan dalam dibanding dynamic driver
– background yang lebih bersih
– distorsi lebih kecil dibanding dynamic
– saat ini popularitas semakin naik, dan karena itu mulai banyak planar yang semakin gampang di drive dan dengan harga semakin murah

Kekurangan (-)
– umumnya harganya jauh lebih mahal dari dynamic driver biasa (harga planar termurah mulai 4 jutaan)
– berat di kepala
– ukuran yang umumnya lebih besar
– lebih sulit di drive apalagi jika hanya menggunakan Heandphone

Personal favorite :
10-15 juta : oppo pm 1, aeon flow closed, audeze lcd2c
20 – 30 juta : audeze LCD X
30 – 60 juta : audeze LCD 4

Personal taste in planar magnetic :
– bwt gw planar selain bisa ngasi bass paling deep tapi tetep cepet, dia punya tekstur vokal terbaik yang di telinga gw merupakan suara vokal paling natural, paling smooth, dan paling bersih, terutama gw dapetin point tersebut di Oppo Pm1 dan audze LCD 3, sekali lagi “terbaik” di telinga gw, bukan berarti terbaik di telinga lu

Electrostatic

Mulai masuk electrostatic, headphone model ini sebenernya masih sangat sedikit, dan setau saya yang memproduksi headphone electrostatic saat ini masih sedikit sekali, hanya : Stax, Sennheiser, Kingsound, Sonoma, MrSpeakers, dan Koss dan harganya sangat melambung tinggi, bahkan headphone termahal sekarang merupakan electrostatic, yaitu Sennheiser He 1 yang harganya mencapai 800 jutaan (iya bener 800 jutaan)

sennheiser he 1
(sennheiser HE 1- image from senhheiser.com)

Cara kerja electrostatic sendiri unik memang dibandingkan dengan headphone lainnya, dimana electrostatic headphone memiliki driver diaphragm yang sangat tipis yang digerakkan dengan elektrostatis melalui lempengan metal yang mengapit drivernya, berbeda dengan planar yang drivernya menempel dengan konduktorny, driver electrostatic tidak menempel dengan apa apa dan digerakkan melalui kekuatan electrostatic saja.

electrostatic inegracoustic
(image from integracoustics.com)

Berbeda dengan headphone lain dimana untuk drive electrostatic membutuhkan amplifier khusus untuk men drive nya, tidak seperti driver lain yang langsung colok dari jack, (bisa dilihat contoh di atas dan di bawah Headphone Sennheiser HE-1, sennheiser orpheus, serta sonoma headphone memiliki amp bawaan untuk drive nya).

sennheiser orpheus mygaming co
(sennheiser orpheus, image from innerfidelity.com)
sonoma acoustic
(sonoma headphone system, image from sonomaacoustics.com)

Electrostatic headphone memiliki kelebihan pada transiens respons nya yang paling cepat dibanding driver lain, biasa terasa pada frekuensi tinggi dimana electrostatic sangat bersih, natural dan cepat. Electrostatic juga memiliki distorsi terendah dibanding tipe driver lain.

Kelebihan (+):
– distorsi terendah dibanding tipe driver lain
– treble yang paling tinggi dan bersih
– transient response tercepat
– tidak seberat planar

Kekurangan (-):
– harga yang pasti mahal karena electrostatic juga butuh amplifier khusus
– kabel yang tebal dan berbeda dengan driver lain, kebanyakan electrosatic memiliki non detachable kabel
– bass yang terasa “lemah” dan tidak sekuat tipe driver lain

Personal Favorite :
– semua STAX pada rentang harga 10 juta keatas
– untuk Sennheiser HE 1 sendiri gw blm coba, namun katanya itu headphone terbagus sekarang (secara harga memang jelas itu headphone termahal)

Personal Taste in Electrostatic :
– bwt gw sendiri yang suka main piano, electrostatic memiliki treble yang benar benar bersih dan paling mirip dengan suara pada nyatanya

Conclusion :
Semua driver memiliki kelebihan masing masing, tapi secara personal kalo harus memilih :
– dynamic untuk bass, karena paling megah
– planar untuk vokal karena paling lembut dan bersih
– electrostatic untuk treble karena paling cepat dan detail

 

 

Advertisement

One thought on “Dynamic VS Planar VS Electrostatic (Indonesian vers.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s